Now Playing Tracks

Many people are saying “I won’t be happy this Eid. Too many people are being killed in Gaza and Syria” I want to let you know that in Gaza they are getting ready for Eid themselves. They are currently shopping for clothes and sweets for tomorrow while bombs are falling. And I’m 100% sure it is the same in the beloved Syria and other places filled with oppression. This is very symbolic for us. Yes, many have been killed, but their spirit is not dead, and will not die. Yes, the oppressors may control their borders or other worldly matters, but the oppressors will never control their happiness, nor will they control your happiness. The Syrian and Palestinian people are strong people, and we have to trust that. I know it’s almost impossible to go through the day without thinking about it or feeling sad, and I don’t blame you. But for Eid, do me a favour, and try to stay happy.

Have a blessed Eid everyone. May we enter the next Eid with a free Palestine, and a free Syria. Ameen

Mohammed Zeyara
(via thebookguru)
Bila mau dibina juga harus siap membina. Pun sebaliknya, siap membina juga harus mau dibina..
Keduanya berkaitan erat, tidak bisa hanya menjalani salah satunya saja.

Ini muntijah namanya. (via octaraisa)

itu seperti teko yang hendak mengisi gelas maka teko itu harus berisi juga, begitukah?

(via dianchusna)

Yupz betul, betul, betul..
Karena kita tidak bisa memberi jika tidak memiliki apapun :))

Peradaban Islam akan tertunda kebesarannya manakala keluarga muslimnya bermasalah - Syaikh Sayyid Quthb

Kutipan di atas saya dapatkan dari lisan Ust. Budi Ashari saat kajian parenting nabawiyah tanggal 11 Desember 2013.

Jika kita melongok peradaban Islam di masa lampau, kita akan memahami bahwa keluarga yang kuat menjadi sebab lahirnya generasi yang melegenda. Sebutlah Umar bin Abdul Aziz, khalifah daulah Umayyah yang memerintah pada tahun 91-101 H. Kisah sukses beliau banyak ditulis oleh ulama dan pakar sejarah Islam, salah satunya adalah Khalid Muhammad Khalid. Dalam bukunya yang berjudul Khulafaur Rasul, Khalid Muhammad Khalid menyanjung Umar bin Abdul Aziz sebagai “Mu’jizatul Islam” yang berarti “Mukjizat yang dimiliki oleh Islam”. Beliau terlahir dari keluarga penuh keimanan. Ibunya bernama Laila dan ayahnya bernama ‘Ashim bin Umar bin Khattab. Jika pernah mendengar kisah penjual susu yang jujur di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab, ketahuilah bahwa wanita itu ibunda Umar bin Abdul Aziz.

Dari satu contoh di atas, kita dapat melihat bahwa peradaban Islam lahir dari keluarga-keluarga yang sehat—tidak bermasalah. Keluarga yang saling menumbuhkan dalam nuansa keimanan. Keluarga yang saling menguatkan dalam kebenaran. Keluarga yang saling menasihati dalam kesabaran.

Pertanyaannya adalah: Bagaimana caranya agar kita dapat mengarsiteki keluarga yang seperti itu?
Kemudian, bagaimanakah kondisi keluarga umat Islam saat ini? Jangan-jangan kita pun mengambil andil dalam ‘penundaan’ ini.

(via ibnuahmd)

(Source: abdullahibnu)

Fashbir Shabran Jamiila: Bersabarlah dengan Kesabaran yang Baik.

jegaarufa:

ibnuahmd:

Belajarlah merawat kesabaran. Menunggu tanpa mengeluh juga mendoakan tanpa putus.

Belajarlah menjaga kesabaran.
Menanti hingga tiba waktunya sembari terus membekali diri untuk yang abadi.

Belajarlah menghargai kesabaran. Bahwa dunia ini bukan hanya tentang maumu, tapi juga kemauan orang lain.

Belajarlah menetapi kesabaran. Meyakini bahwa Allah ta’ala tidak akan menyiakan usaha dan doa kita.

Menetapi kesabaran,muara keikhlasan…

(Source: abdullahibnu)

Pernahkah kau sampai pada suatu titik ketika hati dan seluruh jiwa ragamu begitu mencintai da’wah? Seakan dunia dan seisinya tak lagi bernilai apapun di hadapanmu karena yang kau lihat hanya ALLAH saja. Karena yang kau harapkan hanya Ridho ALLAH semata. Saat ketika dirimu hanya mendamba cinta Dari Sang Maha Pemilik cinta. Pernahkah? Sekali saja, semoga aku dan dirimu DiperkenankanNya untuk sempat merasakan ni’mat itu. Ni’mat iman yang begitu besarnya. Yang sanggup meluluhkan semua duka. Yang mampu menyirami gersangnya jiwa. Saat terdekat bersama Sang Pencipta. Meskipun hanya sekali saja. Semoga…
(via lisanarachmawati)
We make Tumblr themes